Artikel islam, Al-Quran dan Hadist

Tafsir Al Misbah Ramadhan 1431H / 2010 Download Mp3

Tafsir Al Misbah adalah salah satu program acara di Metro TV yang tayang setiap bulan Ramadhan. Acara ini mengenai tafsir Al Quran yang akan dibahas per surah sesuai tema acara tersebut. Narasumber acara ini adalah Prof. dr. M. Quraish sihab merupakan salah satu pakar Al Quran yang mempunyai kemampuan menerjemahkan dan menyampaikan pesan Al Quran dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul dari pada pakar Al Quran lainya. Dalam hal penafsiran ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik) yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat Al-Qur'an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat Al-Qur'an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.


Prof. dr. M. Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan Al-Qur'an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap Al-Qur'an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan Al-Qur'an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat Al-Qur'an. Adalah satu dosa besar bila seseorang memaksakan pendapatnya atas nama Al-Qur'an.

Bagi yang ingin mendengarkannya langsung ataupun mengunduh pembahasannya dalam bentuk Mp3 bisa download langsung filenya dibawah ini : 

06. QS. Al 'anam
Ayat 1-5 Download 
Ayat 6-18 Download
Ayat 19-24 Download 
Ayat 25-31 Download 
Ayat 32-36 Download 
Ayat 37-41 Download
Ayat 42-47 Download
Ayat 48-53 Download
Ayat 54-59 Download 
Ayat 60-64 Download 
Ayat 65-69 Download 
Ayat 70-73 Download
Ayat 74-79 Download
Ayat 80-87 Download
Ayat 88-92 Download
Ayat 93-96 Download
Ayat 97-103 Download
Ayat 104-108 Download
Ayat 109-117 Download
Ayat 118-121 Download
Ayat 122-127 Download
Ayat 128-134 Download
Ayat 135-140 Download 
Ayat 141-145 Download 
Ayat 146-150 Download
Ayat 151-153 Download
Ayat 154-158 Download
Ayat 159-161 Download
Ayat 161-165 Download
 

Tafsir Al Misbah Ramadhan 1433H / 2012 Download Mp3

Tafsir Al Misbah adalah salah satu program acara di Metro TV yang tayang setiap bulan Ramadhan. Acara ini mengenai tafsir Al Quran yang akan dibahas per surah sesuai tema acara tersebut. Narasumber acara ini adalah Prof. dr. M. Quraish sihab merupakan salah satu pakar Al Quran yang mempunyai kemampuan menerjemahkan dan menyampaikan pesan Al Quran dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul dari pada pakar Al Quran lainya. Dalam hal penafsiran ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik) yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat Al-Qur'an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat Al-Qur'an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.


Prof. dr. M. Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan Al-Qur'an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap Al-Qur'an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan Al-Qur'an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat Al-Qur'an. Adalah satu dosa besar bila seseorang memaksakan pendapatnya atas nama Al-Qur'an.

Bagi yang ingin mendengarkannya langsung ataupun mengunduh pembahasannya dalam bentuk Mp3 bisa download langsung filenya dibawah ini : 

08. QS. Al Anfal
Download Ayat 01-08
Download Ayat 09-18
Download Ayat 19-26
Download Ayat 27-35
Download Ayat 36-41
Download Ayat 42-49
Download Ayat 50-59
Download Ayat 60-68
Download Ayat 69-75

09. QS. At Taubah
Download Ayat 01-10
Download Ayat 11-22
Download Ayat 23-35
Download Ayat 36-48
Download Ayat 49-56
Download Ayat 57-60
Download Ayat 61-72
Download Ayat 73-89
Download Ayat 90-100
Download Ayat 101-110
Download Ayat 111-123
Download Ayat 124-129

10. QS. Yusuf
Download Ayat 01-10
Download Ayat 11-20
Download Ayat 21-30
Download Ayat 21-30
Download Ayat 31-39
Download Ayat 40-47
Download Ayat 48-56
Download Ayat 57-66
Download Ayat 67-74
Download Ayat 75-97
Download Ayat 98-105

 

Tafsir Al Misbah Ramadhan 1432H / 2011 Download Mp3

Tafsir Al Misbah adalah salah satu program acara di Metro TV yang tayang setiap bulan Ramadhan. Acara ini mengenai tafsir Al Quran yang akan dibahas per surah sesuai tema acara tersebut. Narasumber acara ini adalah Prof. dr. M. Quraish sihab merupakan salah satu pakar Al Quran yang mempunyai kemampuan menerjemahkan dan menyampaikan pesan Al Quran dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul dari pada pakar Al Quran lainya. Dalam hal penafsiran ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik) yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat Al-Qur'an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat Al-Qur'an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat Al-Qur'an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.


Prof. dr. M. Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan Al-Qur'an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap Al-Qur'an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan Al-Qur'an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat Al-Qur'an. Adalah satu dosa besar bila seseorang memaksakan pendapatnya atas nama Al-Qur'an.

Bagi yang ingin mendengarkannya langsung ataupun mengunduh pembahasannya dalam bentuk Mp3 bisa download langsung filenya dibawah ini : 

07. QS. Al a'raf
Ayat 1-7 Download
Ayat 8-15 Download
Ayat 16-23 Download
Ayat 24-29 Download 
Ayat 30-36 Download
Ayat 37-43 Download
Ayat 51-58 Download
Ayat 59-72 Download
Ayat 73-84 Download
Ayat 85-93 Download
Ayat 94-99 Download
Ayat 100-108 Download
Ayat 109-119 Download
Ayat 120-126 Download
Ayat 127-129 Download
Ayat 130-137 Download
Ayat 138-141 Download 
Ayat 142-146 Download
Ayat 147-151 Download
Ayat 152-156 Download
Ayat 157-160 Download
Ayat 161-166 Download
Ayat 167-171 Download
Ayat 172-179 Download
Ayat 180-186 Download
Ayat 187-191 Download
Ayat 192-196 Download 
Ayat 197-202 Download
Ayat 203 -206 Download






 

Keistimewaan Al Quran



Secara bahasa Al Quran berasal dari kata "qara-a, yaqro-u, qar-an atau qur'aanan" yang berarti "bacaan". Secara terminologi (definisi) Al Quran berarti kalam Allah yang diturunkan/diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW, diriwayatkan secara muthawatir (terjamin kesahihannya, tidak ada keraguan didalamnya) yang merupakan ibadah bagi pembacanya dan sebagai sumber hukum dalam kehidupan umat manusia.

Tidak semua kalam Allah adalah Al Quran, hanya yang di wahyukan kepada Rasullulah dan di riwayatkan secara mutawattir sajalah yang disebut Al Quran. Juga tidak semua wahyu Allah kepada Rasulullah adalah Al Quran karena ada pula yang dinamakan Hadits Qudsi yang redaksinya berasal dari Rasulullah.

Hikmah Al Quran diturunkan

Sejarah membuktikan bahwa betapa banyaknya agama-agama yang berkembang di dunia ini, yang masing-masing mempunyai kitab suci sebagai pedoman hidup penganutnya. Namun, tidak ada satupun yang mampu memberi bimbingan kepada penganutnya, dan kepada umat manusia pada umumnya. Sedangkan kitab-kitab suci yang diturunkan Allah sebelum Al Quran adalah khusus satu golongan saja/kaum tertentu. Di samping itu, sekarang banyak mengalami perubahan-perubahan sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan lagi untuk menjamin keselamatan umat.

Keadaan umat manusia sebelum Al Quran diturunkan tidak mempunyai kestabilan antara rohani dan jasmani, terutama di tanah arab. Maka Allah yang Maha Bijaksana menurunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad SAW untuk membimbing seluruh alam ini menuju jalan kebahagian dunia dan akherat (QS. Ibrahim [14]  : 1 dan  QS. Yunus [10] : 57).

Hikmah diturunkannya Al Quran antara lain :
  • Al Quran sebagai pengajaran dan nasehat yang datangnya dari Allah untuk membimbing umat manusia.
  • Al Quran sebagai penawar (obat) yang sangat mujarab untuk mengobati penyakit mental/rohani umat manusia
  • Al Quran mendudukkan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan
  • Al Quran merumuskan fungsi hidup umat manusia, yaitu beribadah dan berbakti kepada Allah (QS. Al An'am [6] : 165)
  • Al Quran sebagai mu'jizat Nabi Muhammad SAW yang terbesar dan tidak dapat ditandingi oleh siapapun sepanjang zaman (QS. Al Isra' [17] : 88)
Keistimewaan dan keajaiban Al Quran

Berdasarkan fakta-fakta yang nyata, maka tidaklah berlebihan kalau kita katakan bahwa Al Quran itu merupakan satu-satunya kitab suci yang sangat istimewa dari kitab-kitab agama yang lain. Adapun keistimewaan dan keajaiban Al Quran adalah sebagai berikut:
  • Al Quran terpeliharanya kemurnian sejak pertama kali diturunkan hingga akhir zaman Al Quran merupakan satu-satunya kitab suci yang masih asli dan murni isi dan ajaran-ajaranya walaupun sudah mencapai usia kurang lebih 15 abad lamanya. Allah berfirman : "Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami tetap memelihara" (QS. Al Hijr [15] : 9). Penulisan Al Quran itu di koordinir oleh Rasullullah SAW sendiri, sehingga kalau ada kekeliruan dapat langsung ditanyakan pada beliau. Disamping itu, banyak para sahabat yang menghafal Al Quran dengan bimbingan Rasulullah SAW. Dan usaha menghafal itu terus dilakukan hingga saat ini, sehingga pemalsuan mudah diketahui.
  • Al Quran memiliki susunan serta gaya bahasa yang sangat indah menakjubkan sehingga tidak mungkin ada yang menyainginya. Tidak ada seorangpun yang dapat menyainginya. Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi keindahan dan keagungannya. (QS. Al Baqarah [2] : 23 dan QS. Al Isra' [17] : 88). Al Quran memiliki jumlah huruf yang seimbang dengan jumlah kata-katanya, baik antara kata dengan padananya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya. Sebagai contoh, kata "hayat" (hidup) berjumlah sama dengan "maut" (mati) masing-masing 145 buah, "akhirat" terulang sebanyak 115 kali sebanyak kata "dunia", kata "malaikat' terulang 88 kali sebanyak kata "syetan", kata "panas" terulang 4 kali sebanyak kata "dingin" dsb. Pantas saja Allah berfirman : "Allah menurunkan kitab Al Quran dengan penuh kebenaran dan keseimbangan. "(QS. Ash Shuraa [42]: 17)
  • Isinya bebas dari campur tangan manusia dan tidak ada yang saling bertentangan
  • Isi dan ajarannya sesuai dengan fitrah (kodrat) manusia.
  • Al Quran apabila kita baca sudah merupakan suatu ibadah
  • Al Quran mudah dihafal, dipahami dan diamalkan. (QS. Al Qamar [54] : 17 dan 34)
  • Isinya mencakup dan menyempurnakan ajaran-ajaran kitab-kitab sebelumnya.
  • Isi Al Quran juga ditujukan kepada semua umat manusia, tidak hanya untuk satu bangsa saja. (QS. Saba [34] : 28)
  • Ajarannya sangat universal, sehingga berlaku untuk segala bangsa dan segala zaman serta memberi petunjuk dan pedoman yang lengkap, mendalam, dan mencakup semua kehidupan.
  • Al Quran mengandung prinsip persamaan derajat
  • Pembawanya (Muhammad) adalah orang yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) sehingga dapat membuktikan bahwa Al Quran itu benar-benar dari Allah bukan karangan manusia.
  • Diturunkannya Al Quran sebagai rahmat dari Allah. (QS. Al Isra' [17] : 82)
Salah satu mukjizat Al Quran terletak pada fashahah dan balaghahnya, keindahan susunan dan gaya bahasanya serta isinya yang tidak ada bandingannya. Mustahil manusia dapat membuat susunan yang serupa seperti Al Quran yang dapat menandinginya. Dalam Al Quran sendiri terdapat ayat -ayat yang menantang setiap orang untuk membuat yang serupa dengan Al Quran, antara lain Allah berfirman:

"Katakanlah : Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak dapat membuatnya, biarkan sebagian mereka membantu sebagian (yang lain)." (QS. Al Isra' [17] : 88)

Bagi yang tidak mengerti bahasa arab, seperti bahasa indonesia tentu amatlah sulit menemukan dimana letak mukjizat Al Quran, karena mengetahui ketinggian mutu sesuatu susunan kata-kata tidak akan dapat dipahami, kalau kita tidak dapat merasakan keindahan bahasa itu sendiri. Oleh sebab itu, cukuplah kita melihat reaksi para sastrawan penantang islam yang menunjukan bukti atas ijjaz kitab itu.

Hampir semua orientalis barat berkesimpulan bahwa Al Quran itu adalah buatan Nabi Muhammad SAW yang dikarang dengan atau tanpa bantuan siapa pun. Tuduhan ini misalnya terlihat dari buku " Preliminary Discourse" karya G. Sale (1899) yang menyebutkan bahwa oleh Sir Wiliam Muir dan Wollaston (1905), seterusnya FJL. Menezes (1911) dalam karyanya "The Life and Religion Muhammad : The Prophet of Arabia".

Itulah kekecewaan orientalis barat yang timbul akibat kedaifan mereka untuk menandingi keistimewaan Al Quran. Mereka menuduh Muhammad sebagai penyair, berpenyakit gila, atau ahli sihir yang bergantung kepada sumber-sumber Yahudi dan Kristian.

Di samping ditinjau dari segi bahasanya, Al Quran juga mengandung mukjizat dari segi isinya, contohnya :

Di dalam Al Quran terdapat berita-berita dan janji-janji mengenai masa yang akan datang

Kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa depan adalah di luar kekuasaan manusia untuk mengetahuinya. Memang ada ramalan-ramalan dukun tentang masa depan tetapi tidak dijamin kebenaranya. Berbeda dengan Al Quran,  semua berita-berita dan janji-janji yang tersebut di dalam Al Quran adalah benar dan telah menjadi kenyataan seperti :

Kerap kali umat musyrikin mekah sebelum hijrah menantang kaum muslimin dan mengatakan, "Bangsa Rum yang mempunyai kitab injil telah dikalahkan oleh tentara persia (waktu itu menganut agama majusi)." Kemudian turunlah firman Allah :

"Telah dikalahkan kerajaan Rum di negeri yang terdekat dan mereka sesudah kalah itu akan menang lagi dalam beberapa tahun." (QS. Ar Rum [30] :23)

Memang kerajaan Rum di waktu turunya ayat itu dalam keadaan sangat lemah dan tidak akan mungkin bangun lagi. Tetapi apa yang diberitakan Al Quran telah menjadi kenyataan dalam beberapa tahun kemudian.

Di dalam Al Quran terdapat pula fakta-fakta ilmiah yang tidak mungkin diketahui manisia di tanah arab pada waktu itu,  tetapi fakta-fakta tersebut dijelaskan dengan tepat dan sekarang diakui kebenaranya.

Seperti : Pada masa turunya Al Quran,  ilmu kedokteran di tanah arab boleh dikatakan tidak ada, yang ada hanya ilmu pengetahuan secara primitif dan tahayul. Namun demikian Al Quran menerangkan :

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) di dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang. Kemudian tulang-tulang itu Kami bungkus dengan daging. Sesudah itu Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah Pencipta Yang Paling Baik. " (QS. Al Mu'minun [23] : 12-14)

Pada mulanya, ahli-ahli falak menetapkan bahwa  matahari tetap, tidak berjalan (beredar) dan hanya bumilah yang beredar disekeliling matahari, tetapi Al Quran menegaskan bahwa matahari juga berjalan. Hal ini baru terungkap dengan penemuan ilmiah baru-baru ini. Allah berfirman :

"Dan matahari itu beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan dari Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. " (QS. Yasin [36] : 38)

Kewajiban terhadap Al Quran

Setiap muslim memiliki kewajiban dan konsekuensi terhadap kitab sucinya, yang antara lain :

1. Membaca Al Quran
Menbaca Al Quran merupakan salah satu tanda keimanan, menjadi pembeda antara orang muslim dengan orang kafir. Allah berfirman :

"Dan apabila kamu membaca Al Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akherat, suatu dinding yang tertutup". (QS. Al Isra'[17] : 45)

Kita tidak perlu takut untuk membaca Al Quran walaupun bacaan kita belum lancar. Semuanya pasti akan mendapat balasan yang adil oleh Allah SWT.

Pembacaan Al Quran ada dua model, yaitu tilawah, membaca Al Quran dengan membaca (lafaldz) ayat demi ayat, membetulkan tajwidnya, memerdukan suara dan lagunya. Model yang lain adalah tadarus, membaca tidak hanya membaca (lafaldz) ayat demi ayat, membetulkan tajwidnya, memerdukan suara dan lagunya, tetapi dilanjutkan dengan pemahaman makna, penggalian petunjuk untuk selanjutnya diamalkan.

Di bulan Ramadhan, rasulullah SAW menuntunkan kepada umat Islam untuk menjalankan tadarus Al Quran, bukan sekedar menjalankan tilawah apalagi Quran. Bagi kita umat Islam, apabila mendengar lantunan bacaan Al Quran berkewajiban untuk mendengarkan dengan tenang agar kita mendapat rahmat (QS. Al Araf [7]: 204)

2. Menghafal bacaan Al Quran
Rasulullah bersabda : "Bacalah olehmu Al Quran, karena ia akan memberimu syafaat pada hari kiamat bagi para pembaca dan penghafalnya."(HR. Muslim)

3. Mengajarkan dan membenarkan Al Quran
Setelah mempelajari Al Quran, maka kewajiban selanjutnya adalah mengajarkan apa yang di dapatkannya dan menyebarkan kebenaran Al Quran ke seluruh pelosok negeri minimal di keluarga atau lingkungan sekitar supaya umat islam tidak buta huruf Al Quran (kitab mereka sendiri). Nabi Muhammad SAW bersabda : Dari Usman bin Affan ra, ia berkata, rasulullah bersabda, "Orang yang paling baik diantara kalian adalah yang mempelajari Al Quran dan mengajarkanya." (HR. Al Bukhari, Daud,  At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad Darimi)

4. Memahami maknanya, menghayati (tadabur) dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak kaum muslim yang terjebak pada ibadah ritual sekedar membaca Al Quran saja. Mereka lupa bahwa fungsi utama Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan petunjuk itu harus digali untuk selanjutnya diamalkan. Banyak pula kaum muslim yang dekat dengan Al Quran, tetapi kedekatan itu baru sekedar kedekatan secara fisik (dekat dengan mushaf Al Quran). Akan tetapi jika kita mau mengukur moral, amal dan perilaku kita dengan petunjuk dan ajaran Al Quran, secara jujur harus diakui masih jauh dari Al Quran.

Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa "barang siapa yang menjadikan Al Quran sebagai imam, maka ia membimbingnya ke surga. Namun siapa yang menjadikan Al Quran sebagai makmum, maka ia akan mendorongnya ke dalam neraka". 

(Sumber : AAI FTP UGM)




 

Ma'rifatullah (Mengenal Allah)



Aqidah Islamiyah

Ajaran tauhid, telah ada dalam jiwa manusia sejak Nabi Adam as sebagai manusia pertama yang diciptakan Allah swt di muka bumi.

Sesungguhnya Allah swt, menurunkan agama islam (ajaran tauhid) untuk manusia adalah untuk memuliakan manusia itu sendiri, bukan untuk menyengsarakan hidup manusia. Dengan ajaran agama islam ini, diharapkan manusia dapat mengenal Allah swt. Mengenal kekuasaan Nya, kebesaran Nya dan keagungan Nya, sehingga manusia dapat beriman kepada Nya dengan sebenar-benarnya iman yang akan menimbulkan rasa cinta terhadap Allah swt.

Lalu apa tauhid (Aqidah)? Aqidah berasal dari kata 'aqada-ya'qidu-'aqdatan' yang berarti simpulan ikatan perjanjian yang kuat. Kemudian bentuk kata ini berubah menjadi 'aqidatan' (aqidah) berarti ikatan kepercayaan dan keyakinan kebenaran yang kuat dalam hati. Sedangkan secara etimologis /istilah berarti suatu kebenaran yang dapat diyakini dalam dalam hati dengan penuh kemantapan, sehingga terhindar dari keragu-raguan, berdasarkan ayat-ayat qauliyah (Al Quran) maupun ayat-ayat kauniyah (alamiah) yang dapat dibuktikan dengan hukum alam dan pengetahuan."

Keimanan/keyakinan manusia itu bertingkat-tingkat, untuk membuktikan keyakinan yang mapan, maka dapat dianalisa dengan tiga tingkat :

Tingkat pertama disebut ilmulyakin : yaitu suatu keyakinan yang didapat berdasarkan ilmu dan pengetahuannya, berupa teori, ibarat kita melihat asap, maka kita akan yakin bahwasanya ditempat tersebut pasti ada api.

Tingkat kedua disebut ainulyakin, sebagai peningkatan ilmu dari ilmul yakin. Untuk lebih meyakinkan kebenaran perkiraan kita terhadap hal tersebut tadi, maka kita menuju ketempat dimana kita perkirakan api sedang berkobar. Dari kejauhan kita dapat melihat jilatan api yang menambah keyakinan kita akan adanya kebakaran (penelitian dan observasi).

Tingkat ketiga disebut Haqqulyakin. Setelah kita melihat jilatan api, makin mendekat makin terasa juga panasnya, barulah kita percaya sepenuhnya bahwa dugaan kita tadi ternyata benar dan tak perlu diragukan lagi

Ma'rifatullah

Allah swt adalah Dzat yang menciptakan dan mengatur alam semesta. Kekuasaan Nya tidak terbatas, kekuatan Nya tidak dapat diukur, keluasan ilmu Nya tidak dapat diketahui, kebesaran Nya tidak dapat ditandingi oleh siapapun. Karena itu keagungan dan kebesaran hanyalah milik Allah swt. Sedangkan manusia, betapapun hebat dan unggulnya, ia hanyalah salah satu makhluk dari berjuta-juta makhluk Allah swt yang sangat membutuhkan pertolongan dan perlindungan dari Nya.

Apabila manusia menyadari hakikat tersebut maka ia pasti akanberiman tunduk dan patuh kepada Allah swt. Merendahkan dihadapan Nya dan menerima kebenaran dengan tulus dari siapapun juga. Sebab hakikatnya kebenaran datangnya dari Allah swt (QS. [2] : 147)

Oleh karena itu semakin orang mengenal Allah swt, maka akan semakin kuat imanya dan semakin takut kepada Nya.

Satu hal yang sangat penting dalam hidup manusia di dunia yang sementara ini adalah bagaimana manusia itu dapat menyempunakan imanya sehingga ia dapat mati membawa kalimat iman, kalimat "laailaha illallah" dan amal sholeh sehingga ditolong oleh Allah swt dari adzabNya, masuk kedalam surga Nya.

Untuk menumbuhkan keimanan yang sempurna kepada Allah swt, maka kita harus berusaha, tanpa berusaha tidak mungkin keimanan itu datang dengan dengan tiba-tiba. Untuk mendatangkan keimanan yang sempurna kita perlu mengenal siapa itu Allah swt (Ma'rifatullah).

Ma'rifatullah berasal dari kata Ma'rifah berarti mengenal, mengetahui. Yang perlu ditekankan, mengenal Allah bukan lewat dzatNya melainkan mengenal Allah lewat ayat-ayatNya dan tanda-tanda kebesaran Allah swt.

Urgensi Ma'rifatullah

Orang yang mengenal Allah swt denga sebenar-benar pengenalan, akan menyadari bahwa Allah swt yang Maha kuasa, Maha Kaya, Maha Perkasa dan Maha Bijaksana tidak membutuhkan sesuatupun dari manusia. Karenanya bila mendapatkan kebaikan maka akan memuji Allah swt dan bersyukur kepada Nya, tidak menyombongkan diri atau lupa diri, sebab ia tidak akan mampu berbuat apapun tanpa bantuan dan pertolongan Nya dan bila mendapatkan keburukan maka segera melakukan instropeksi.

Orang yang telah mengenal Allah swt akan menyadari tugas yang harus ia emban dalam kehidupan di dunia ini yaitu beribadah kepada Nya untuk mencari keridhaan Nya. Sebaliknya orang yang tidak mengenal Allah swt, akan menyombongkan diri di dunia ini, dan manusia yang menyombongkan diri sama saja menantang Allah swt dan menjadikan dirinya sebagai saingan bagi Nya. Orang yang menyombongkan diri adalah orang yang tidak mengenal pencipta dan pengatur jagad raya ini yaitu Allah swt.

Dengan mengenal Allah maka kita dapat mengetahui dengan pasti apa tujuan hidup kita (QS. [51]:56) dan tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia, kita akan merasakan kehidupan yang lapang walau bagaimanapun keadaan dan seberat apapun masalah yang dihadapi. Karena kita yakin Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba Nya dan akan kegelapan dan kebodohan menuju cahaya yang terang (QS.[6] : 122).

Maka sungguh beruntung, apabila seseorang itu kenal dengan Allah sehingga dicintai dan ditolong oleh Allah swt, maka dia akan mendapatkan segala-galanya, bahagia, sukses selama-lamanya di surga Nya.

Cara Mengenal Allah Swt

Lalu bagaimana kita dapat mengenal Allah dengan sebenar-benarnya? yaitu dengan melihat tanda-tanda kekuasaan Allah (ayat kauniyah) dan merenungi dan menghayati ayat-ayat Al Quran, serta dengan memahami Asmaul Husna.

Ayat-ayat kauniyah Allah swt adalah menunjukan kesempurnaan kekuasaan, kebijaksanaan, dan kasih sayang Nya. Matahari adalah salah satu ayat Allah sampai kelak Allah menghancurkannya. Matahari selalu bergerak, berjalan di tempat peredarannya, sebagaimana firman Allah dalam Al Quran surat Yasin [36] : 38.

Sesungguhnya Allah swt adalah Dzat yang menciptakan semua makhluk. Semua makhluk baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak, yang kasar yang halus, yang ada di bumi, dilangit, diantara langit dan bumi, yang ada di laut maupun di dasar laut, semuanya adalah ciptaan Allah swt. Dialah Dzat yang Maha menciptakan (Kholik).

Allah swt adalah Dzat yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Maka kita tanamkan perasaan dalam hati kita bahwasanya kita itu selalu dilihat, didengar, dan diketahui, serta diawasi oleh Allah swt sehingga kita akan merasa malu untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Bila kita memiliki perasaaan seperti itu, malu untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Bila kita memiliki perasaan seperti itu, maka Allah akan berikan sifat ikhsan kepada diri kita, yamg mana dengan sifat itu kita akan dapat merasa seolah-olah melihat Allah swt ada dihadapan kita.

Sesungguhnya Allah swt, sangat dekat dengan diri manusia, bahkan lebih dekat dari urat lehernya, tetapi kenapa terasa jauh dan sulit untuk mengenal Nya. Karenadalam diri manusia ada dinding yang tebal antara lain :
  • Kesombongan (QS. [7] : 146, [25] : 21)
  • Taklid Buta (sikap meniru tanpa berfikir) (QS. [2] : 166-167, 170-171)
  • Keras kepala dan menentang (QS. [22] : 8-9, [6] : 7, [15] : 14-15)
  • Bersandar pada panca indera (QS. [2] : 55)
  • Dusta (QS. [7] : 176)
  • Ragu-ragu (QS. [6] : 109-110)
  • Banyak berbuat maksiat
Semua sifat diatas adalah bibit-bibit kekafiran yang harus dibersihkan dari hati. Sebab kekafiranlah yang menyebabkan Allah swt mengunci mati hati manusia dan menutup mata dan telinga serta menyiksanya di neraka (QS. [2]:6-7)

Iman kepada Allah swt

Apabila kita mengenal Allah, maka kita pasti akan beriman kepada Allah swt, semakin mengenal Allah maka semakin meningkat pula iman kita. lalu apa yang harus kita imani?

Pertama : Iman kepada kewujudan (adanya) Allah swt. Kewujudan Allah swt ini telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara' dan indera.

Perunjuk fitrah menyatakan kewujudan Allah. Karena segala makhluk telah diciptakan untuk beriman kepada penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada makhluk yang berpaling dari fitrah itu kecuali hatinya telah termasuki oleh oleh sesuatu yang dapat memalingkannya dari fitrah itu. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW" Tiada yang terlahir melainkan ia dilahirkan di atas (dalam keadaan) fitrah. Maka kedua orang tuanya akan menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani, atau majusi."

Petunjuk akal menyatakan kewujudan Allah swt, karena seluruh makhluk yang ada ini, termasuk yang sudah berlalu maupun yang akan datang kemudian, sudah tentu ada penciptanya yang menciptakanya. Tidak mungkin makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya. Sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah swt dalan Al Quran surat At Thur [52] ayat 35.

Ada baiknya jika kita mengambil satu contoh untuk lebih memperjelas hal itu. Jika seseorang menceritakan kepadamu tentang sebuah istana yang megah, yang dikelilingi oleh berbagai tanaman, ada sungai-sungai yang mengalir diantara bangunan-bangunan istana itu, dipenuhi dengan berbagai permadani, dipercantik dengan berbagai jenis perhiasan pada bangunan-bangunanya, lalu ia berkata kepada anda : "Sesungguhnya istana ini ada dengan sendirinya, tercipta oleh dirinya sendiri tanpa ada yang menciptakanya". Maka anda tentu langsung membantah hal itu serta mendustakannya dan pasti anda akan mengira dia itu orang gila.

Petunjuk Syar'i juga menyatakan kewujudan Allah swt, sebab semua kitab-kitab samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab samawi itu berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti bahwa itu datang dari Rabb yang bijaksana dan Maha Tahu akan kemaslahatan makhluknya.

Dan petunjuk indera mengenai kewujudan Allah swt dapat dilihat dengan mendengar dan menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya orang-orang yang kesusahan, yang semuanya itu menunjukan adanya Allah swt (QS. Al Anbiya [21] : 76, QS. Al Anfal [8] : 9)

Dalam Shahih Bukhari disebutkan hadist dari Anas bin Malik ra bahwa orang badui masuk (ke dalam masjid) pada hari jumat, sementara nabi SAW sedang berkutbah. Orang itu lantas berkata :" Ya Rasulullah harta kami musnah dan keluarga kami kelaparan. Maka berdoalah kepada Allah buat kami, "Akhirnya beliau mengangkat kedua tangan dan berdoa. Tak lama kemudian, awan sebesar gunung pun tiba, sementara beliau masih diatas mimbar, sehingga aku lihat air hujan bercucuran pada jenggot beliau. Pada jum'at kedua (berikutnya), si arab Badui itu, atau lainnya, berdiri lantas berkata : "Ya Rasulullah, bangunan rumah kami roboh dan harta kami tenggelam. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami". Akhirnya beliau pun mengangkat kedua tanganya seraya berdoa : "Ya Allah, turunkanlah hujan di sekeliling kami dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi kami". Akhirnya, tidaklah beliau menunjuk pada suatu arah (tempat) melainkan menjadi terang (tanpa hujan). Selain itu juga dengan ayat-ayat (tanda-tanda) para nabi as yang dinamakan mu'jizat.

Kedua : Iman kepada Rububiyah Nya. Artinya bahwa Allah adalah satu -satunya Rabb yang tak mempunyai sekutu maupun penolong. Rabb adalah Dzat yang berwenang mencipta, memiliki dan memerintah. Tiada pencipta selain Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah serta tiada yang berhak memerintah kecuali Allah (QS. Al A'raf [7] : 54 dan QS. Fathir [35] : 13)

Ketiga : Iman kepada Uluhiyah Nya. Artinya bahwa Allah adalah satu-satunya ilah yang Haq, tiada sekutu baginya, Kata ilah disini bermakna ma'lub yang berarti yang disembah/diibadahi atas landasan kecintaan dan pengagungan.

Keempat : Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Nya. Artinya menetapkan apa saja yang telah ditetapkan Allah bagi diri Nya yang tersebut dalam kitab Nya atau sunah RasulNya tentang nama-nama dan sifat-sifat sesuai dengan yang layak bagi Nya

Mencintai Allah swt

Sesungguhnya mengenai masalah mencintai Allah swt adalah suatu bab yang membutuhkan pemahaman yang serius dan harus dipelajari secara mendalam.

Sesungguhnya nikmat agama tak bisa dihitung dengan apa saja yang ada di dunia ini. Besarnya nilai iman, sehingga bila masih ada orang yang beriman walaupun hanya tinggal satu orang saja, maka Allah swt akan menunda kehancuran dunia.

Orang yang beriman kepada Allah swt maka akan timbul rasa cinta kepada Allah swt. Semakin besar keimanannya maka akan semakin besar pula rasa cintanya kepada Allah swt dan rela mengorbankan segala potensi yang dia miliki untuk mentaati Allah swt.

Menurut sebagian ulama makna dari kalimat "Laailaha illallah" adalah bahwasanya tidak ada yang patut dicintai kecuali Allah swt semata (Illah adalah sesuatu yang pantas dicintai)

Begitu pula juga konsekuensi kita mengucapkan kalimat syahadad, kita harus berkorban demi mendapatkan kecintaan Allah swt. Contoh orang yang cintanya kepada Allah swt begitu besar sehingga beliau mau mengorbankan segala-galanya demi Allah swt adalah Nabi Ibrahim as. Begitu besarnya kecintaan dan pengorbanan beliau maka beliau dijuluki "Khalikullah" (Kekasih Allah).

(Sumber : AAI FTP UGM)





 

Mengapa memilih islam?



Meneliti perkembangan ajaran-ajaran agama di dunia ini, maka agama dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar, yaitu :

1. Agama Samawiyah (Tauhid)
yaitu ajarannya bersumber dari wahyu Allah SWT yang dibawa oleh para nabi dan rosul, sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SAW.

2. Agama Ardhiyyah (Syirik) yaitu semua ajarannya berasal dari cipta, rasa dan karsa manusia (budaya) dalam lingkungan di mana mereka hidup.

Pada hakikatnya, semua ajaran sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad SAW adalah ajaran yang mengakui adanya satu tuhan, yaitu Allah SWT. Ajaran tersebut tentu bersumberkan dari yang satu yaitu wahyu dari Allah SWT yang dibawa Jibril kemudian disampaikan kepada para rosulNya sebagai pedoman hidup bagi umatnya, sesuai kondisi pada waktu itu. Misalnya Nabi Adam as diperbolehkan kawin dengan saudara sekandung, karena jumlah manusia belum berkembang. Umat Nabi Musa as di wajibkan sholat 50 waktu sehari semalam, karena kondisi umat memungkinkan. Tetapi Nabi Muhammad SAW hanya di wajibkan lima waktu sehari semalam,  sesuai dengan kemampuanya. Demikian juga hukum-hukum dan ibadah yang lainya.

Selain dari itu, semua agama samawiyah pada prinsipnya adalah islam. Ini terbukti bahwa umat para rosul sebelum Nabi Muhammad SAW juga disebut "muslim" artinya orang islam, berdasarkan firman Allah :

"Dan ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub. (Ibrahim berkata) : Hai anak-anaku! Sesungguhnya  Allah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam ". (QS. Al Baqrah [2] : 132).

Hanya saja dalam operasionalnya, nama islam itu tidak dipopulerkan, karena ruang lingkupnya masih terlalu terbatas untuk satu golongan (kaum). Oleh karena itu, ajaran para rosul sebelum Nabi Muhammad SAW hanya diperuntukan bagi kaumnya sendiri-sendiri, bukan bagi umat yang lain.

Agama polytheisme
Agama polytheisme adalah agama yang mengakui dan menyembah banyak tuhan. Yang termasuk agama polytheisme adalah agama primitif (animisme dan dinamisme), hindu, budha dll. Bukti ketidak sempurnaan/kesalahan ajaran polytheisme :

1. Ketuhanan : ajaran polytheisme mengakui adanya banyak tuhan. Hal itu tentu menunjukan bahwa Tuhan tidak memiliki sifat Maha Kuasa karena sifat Maha hanya ditujukan untuk 1 tuhan saja. Oleh karena itu, kekuasan tuhan dalam ajaran ini bersifat terbatas.  Bahkan dalam agama Hindu kita mengenal ajaran Trimurti, yaitu menyembah dewa syiwa (dewa perusak), dewa wisnu (dewa pelindung) ataupun dewa brahma (dewa pencipta). Hal ini mencerminkan bahwa kekuasaan tuhan terbagi-bagi dan terbatas. Ada tuhan yang hanya berkuasa menciptakan alam raya, ada yang hanya berkuasa merusak alam dan ada yang hanya berkuasa melindungi alam raya. Hal inu senada terhadap ajaran agama polytheisme yang lain.

Dalam pandangan islam,  Tuhan itu bersifat Maha Esa (satu), baik Esa dalam namaNya, Esa dalam dzatNya, Esa dalam sifatNya manapun perbuatanNya. Hanya ada satu Tuhanlah yanh disembah dan diakui dalam hidup ini, Dia lah Allah SWT. Tidak ada satupun yang menyamaiNya. Allah adalah tuhan yang Maha Kuasa. Kekuasanya tidak terbatas baik oleh siapapun maupun apapun. Allah mampu menciptakan alam semesta, mampu membinasakan dengan amat mudah, mampu melindungi alam semesta, mampu menurunkan hujan dan sebagainya. Kepercayaan dan sesembahan kepada selain Allah yang Maha Esa berarti syirik (menyekutukan Allah). Oleh karena itu, ajaran polytheisme sering disebut juga dengan agama syirik.

2. Pembagian kasta : beberapa ajaran polytheisme sering dikenal adanya ajaran pembagian kasta, misalnya agama hindu. Di dalam ajaran ini,  tinggi rendahnya derajat manusia di hadapan Tuhan di tentukan oleh keturunan, kekayaan, warna kulit maupun kedudukannya. Hal ini tentu menimbulkan presepsi adanya ketidak adilan Tuhan terhadap manusia. Manusia tidak mempunyai kehendak untuk dilahirkan dalam kondisi keturunan seperti apa maupun warna kulit seperti apa. Tetapi, Tuhanlah yang menentukan itu semua.

Berbeda dengan ajaran agama islam. Islam tidak mengenal adanya pembagian kasta. Justru, ajaran pembagian kasta ini sangat bertentangan dengan ajaran persamaan manusia di dalam islam.
Dalam ajaran islam, orang yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah adalah yang bertaqwa. Allah berfirman :

 "....Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa." (QS. Al Hujarat [49] : 13)

3. Balasan/hukuman dosa : banyak ajaran-ajaran polytheisme yang menerapkan hukuman di dunia saja dan tidak menyinggung sedikitpun masalah akherat. Agama hindu misalnya, ajaran ini menerapkan hukuman karma di dunia tanpa mempermasalahkan adanya balasan di akherat kelak.

Sedangkan ajaran agama islam menerapkan hukuman baik di dunia dan di akherat. Bahkan hanya agama islamlah yang menjelaskan kehidupan akherat secara jelas dan pasti. Di akherat nanti, setiap amalan manusia baik sekecil apapun akan mendapat balasan dari Allah seadil-adilnya. Allah bersifat Maha Adil, Maha Pengasih dan Penyayang, sehingga Allah berkuasa untuk memberikan pahala ataupun dosa terhadap amal perbuatan manusia itu. Pahala dan dosa itu akan dipertanggungjawabkan di akherat kelak.

4. Reinkarnasi : reinkarnasi adalah kelahiran manusia kembali di dunia. Dalam kepercayaan agama hindu apabila manusia mati maka ruhnya akan tertuju ke surga atau neraka kemudian menjelma (memasuki) bayi yang baru lahir. Apabila dalam kehidupan lampau selalu berbuat baik, maka ia akan menjelma menjadi bentuk yang lebih baik lagi. Sedangkan jika berbuat buruk, maka akan lahir dalam bentuk binatang yang hina dina. Seseorang akan terbebas dari lingkaran reinkarnasi jika dirinya tidak berdosa. Keburukan ajaran inu tampak pada prinsip bahwa orang yang baik adalah orang yang tidak berdosa, sehingga ia akan terbebas dari reinkarnasi.

Sedangkan agama islam mengajarkan bahwa orang yang baik adalah bukan orang yang tidak berdosa, tetapi orang yang ketika berdosa maka ia segera bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Islam memahami prinsip bahwa dosa itu fitrah manusia. Selain itu, islam tidak mengenal adanya reinkarnasi. Setelah manusia mati, ia akan hidup di alam barzah (kubur) kemudian ke alam akherat, sehingga kelahiran kembali tidak akan mungkin terjadi :


"....Ya Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia agar aku dapat beramal sholeh dalam hal yang dulu aku lupakan. Sekali-kali tidak! Hal itu sebenarnya hanyalah sekedar perkataan yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan" (QS. Al Mu'minun [23] : 99-100)

5. Kerahiban atau kepasturan : beberapa agama mengajarkan bahwa jika manusia ingin membaktikan dirinya kepada Tuhan maka ia tidak diperbolehkan lagi memikirkan masalah duniawi dan harus menghindari hawa nafsu. Ini tampak dengan adanya biksu, pastur, rahib, dan lain-lain yang tidak boleh memikirkan masalah duniawi dan hawa nafsu harus dimusnahkan atau dihilangkan.

Islam mengajarkan bahwa kehidupan yang baik adalah yang seimbang antara dunia dan akherat.  Hawa nafsu dalam manusia adalah fitrah. Maka, hawa nafsu bukan dimusnahkan, tetapi dikendalikan dengan aturan sehingga kemuliaan manusia tetap dapat dipertahankan, jangan sampai mengumbar hawa nafsu seperti binatang. Bahkan islam mengajarkan bahwa menikah itu adalah salah satu ibadah yang disunahkan oleh Allah SWT.

Agama nasrani (kristen/ katolik) dan agama yahudi
Pada mulanya, ajaran nasrani dengan kitab injil yang dibawa oleh Nabi Isa as merupakan agama tauhid yang datangnya dari Allah. Kemudian akibat adanya murid Nabi Isa as yang berkhianat bernama Judas Eskariot, maka ajaran tersebut mulai diselewengkan.

Dalam perkembangan selanjutnya, agama nasrani menjadi agama syirik, sebab ajaran aslinya tauhid diganti oleh para pemimpin gereja menjadi ajaran trinitas yaitu Tuhan terdiri dari 3 unsur : Tuhan bapak, putra Allah (yesus kristus) dan roh qudus. Ajaran ini berkembang sampai sekarang, menyebar ke seluruh dunia yang dibawa oleh para misionaris agama nasrani atas anjuran pimpinan gereja.

Beberapa kesalahan agama nashrani (sebagai bukti bahwa ajaran tersebut tidak murni dari Allah lagi) adalah :

1. Kitab suci (bibel) yang setiap periode berubah-ubah. Bibel selalu mengalami perubahan setiap periode untuk dilakukan perbaikan penambahan dan pengembangan oleh manusia. Hal itu tentu menyatakan bahwa kitab tersebut tidaklah asli berasal dari Allah, melainkan atas perbuatan tangan-tangan manusia.

2. Ajaran trinitas yang mengajarkan untuk menyembah yesus.
Dalam kitab bible jelas tidak ada satupun ayat yang menyatakan bahwa yesus itu tuhan dan wajib untuk disembah. Bahkan di dalam bible sendiri dijelaskan bahwa yesus itu hanyalah utusan Tuhan (yohanes 16:5)

3. Penyebaran agama nashrani ke seluruh dunia
Yesus sendiri melarang muridnya untuk menyebarkan agama nashrani kepada bangsa lain (matius 15:24). Dengan demikian jelaslah bahwa penyebaran agama kristen ke seluruh umat di dunia ini adalah rekayasa pemimpin gereja. Bahkan di dalam bible dikatan (Matius 10:56)

4. Tuhan versi bible
Tuhan berpikir keras (kejadian 18:17), tuhan itu lupa (Ratapan/Nudud Yeremia 2:1), Tuhan mengerang kesakitan (Yesaya 42: 14)

5. Malaikat versi bible
Malaikat itu tidak taat dan membangkang (Yudas 1 : 6), malaikat diadili oleh manusia (II Korintus 11: 41). Jika diperhatikan, mustahil sekali apabila manusia yang mengadili malaikat padahal justru manusialah yang banyak melakukan dosa di dunia ini.

6. Kisah Natal
Di dalam bible, tidak ada satupun ayat yang memerintahkan untuk merayakan natal  tanggal 25 Desember. Kisah natal yang dirayakan umat nashrani, sebenarnya adalah meniru perayaan dewa matahari yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember pada abad ke 4 M. Sedangkan pohon natal yang biasa digunakan, sebenarnya adalah sejenis pohon everegen. Penggunaan pohon natal adalah meniru kebiasaan semiramis (ibu dan istri-istri raja nimrod) untuk mengenang anak-anak dan cucu-cucu mereka dengan cara menghias pohon evergreen dan diberi hadiah.

7. Sinterklas
Tidak ada satu ayatpun di bible yang menjelaskan adanya sinterklas yang berbaju merah, bertopi dan berjenggot yang datang dari kutub kemudian terbang menggunakan kereta yang dikendalikan oleh kijang. Itu hanya rekaan umat Nashrani pada umumnya.

8. Ajaran penebus dosa
Ajaran ini jelas menunjukan bahwa dosa itu amatlah ringan, dan dapat ditebus kapan saja dengan amat mudah.

9. Dosa waris
Menurut keyakinan nashrani, setiap manusia menanggung dosa warisan, yang diakibatkan kekhilafan Nabi Adam dan Siti Hawa ketika mereka di surga. Untuk menghilangkan dosa waris tersebut, seseorang harus dibabtis terlebih dahulu. Oleh karena itu, seorang bayi yang meninggal seketika ia lahir, maka ia akan dimasukan ke dalam neraka. Secara logika dan menurut keyakinan islam, setiap manusia tentu menanggung dosa yang ia kerjakan sendiri, bukan dari perbuatan orang lain. Perhatikan QS. Al Isra ayat 15. Seorang bayi meninggal seketika dia dilahirkan, maka tentulah ia akan masuk ke dalam surga.

10. Ayat bible yang saling bertentangan
Sebagai buktinya, perhatikan raja-raja I 7:26 vs Tawarikh II 4:5 atau Yahya 3: 22-26 VS Matius 1:12-17. Menurut Yahya 3 : 22-26, sebelum yohanes pembaptis tertangkap, Yesus sudah mengajar dan membaptis orang, tetapi dalam Mathius 1:12-17, Yesus baru mengajar setelah Yohanes di tangkap. Masih banyak lagi pertentangan ayat-ayat di dalam bible, yang menunjukan bahwa kitab tersebut tidak suci lagi dari Allah SWT.

Kedudukan dan keistimewaan agama islam
Dalam sejarah, islam adalah agama samawi yang terakhir yang mempunyai kedudukan istimewa dibanding dengan agama samawi sebelumnya. Kedudukan tersebut antara lain :

1. Islam adalah penyempurna agama-agama samawiyah sebelum nabi muhammad SAW. Ajaran samawi sebelum Nabi Muhammad SAW terbatas untuk golongan, ruang dan waktu tertentu, sedangkan agama islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW memiliki ruang lingkup universal dengan waktu yang tidak terbatas,  karena beliau adalah nabi/rasul penutup. (QS. Saba' : 38)

2. Islam adalah pengontrol prinsip ajaran agama samawiyah yang dibawa rosul-rasul sebelum nabi muhammad, yang kemudian dirubah oleh pemuka agama mereka berubah menjadi ajaran syirik dengan menyembah lebih dari satu tuhan, misalnya ajaran trinitas dalam agama yahudi dan nashrani. Oleh karena itu, islam membantah ajaran trinitas, melalui firman Allah :

"Katakanlah : (Dialah) Allah yang Maha Esa. Allah adalah tuhan bergantung kepada Nya segala sesuatu. Dan tiadalah beranak dan tiada pula diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS. Al Ikhlas : 1-4)

3. Islam membenarkan semua para rasul /nabi sebelumya
Maksudnya islam mengakui adanya para nabi dan rasul yang mengajarkan ketauhidan kepada Allah swt. Islam tidak membeda-bedakan antara rosul satu dengan yang lain, sebab ajaranya adalah sama yaitu Tauhid. 

Selain memiliki kedudukan yang istimewa, islam juga memiliki keistimewaan dalam setiap ajarannya yang menjadi bukti kebenaran ajaran agama islam. Keistimewaan itu antara lain :

1. Ajaran islam sesuai dengan fitrah manusia
Ajaran islam mudah diterima, ringan pelaksanaanya dan pengamalanya serta tidak memberatkan. Sebagai contoh dengan adanya keringanan-keringanan (rukhshah) dalam ibadah puasa, ibadah nikah, dan sebagainya. Hawa nafsu adalah fitrah manusia, sehingga islam justru mengajurkan seseorang yang mampu untuk menikah. Oleh karena itu, islam tidak mengenai kepasturan dan kerahiban yang melarang seseorang untuk menikah.

2. Tidak ada paksaan untuk memasuki agama islam
Negara-negara yang dimasuki agama islam, maka penganut agama lama dan tempat-tempat ibadah mereka tidak diganggu bahkan dilindungi.(QS. Al Baqarah : 256)

3. Islam menjunjung tinggi persamaan antara manusia tanpa membedakan keturunan, kekayaan, suku, bangsa, warna kulit, dan jabatan. Orang yang paling mulia di hadapan Allah SWT hanyalah orang yang paling bertaqwa.

4. Ajaran islam mengarah kepada keseimbangan dunia dan akherat, material dan spititual, jasad dan ruh serta usaha/ikhtiar dan takdir.

5. Agama-agama selain islam adalah larangan dan sanksi dosa atas perbuatan buruk, tetapi tidak mementingkan segi akhlak (moral). Ada yang menetapkan hukuman di dunia saja (hukum karma) dan tidak menyinggung sedikitpun hukuman akherat.

6. Islam mengajarkan prinsip siapa berbuat, dia bertanggungjawab. Oleh karena itu,  islam tidak mengenal ajaran penebusan dosa.

7. Ajaran islam bersifat universal dan lengkap. Islam membicarakan seluruh sisi kehidupan manusia, mulai masalah kecil hingga besar. Meliputi seluruh sisi kehidupan sehari-hari.

8. Kemukjizatan Al Quran sebagai pedoman hidup. Hingga detik ini, tidak ada satupun makhluk yang dapat menandingi Al Quran. Al Quran tetap terjaga dan terpelihara kemurniannya sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.

Ajaran agama islam digambarkan sebagai sebuah bangunan yang kokoh saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Adapun isi kandungan islam terdiri dari 3 bagian:

1. Pokok dan pondasi (asas)
Pokok dan pondasi ini terdiri atas aqidah dan ibadah. Aqidah merupakan dasar dari bangunan islam. Tanpa aqidah, maka islam tidak akan kuat. Kekuatan pondasi ini mencangkup dua kalimat syahadat dan rukun iman. Sedangkan ibadah mencakup rukun islam yang lima

2. Bangunan (Bina)
Bangunan ini mencakup segala aturan dalam seluruh aspek kehidupan manusia, baik aspek politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan, keprajuritan, akhlak dan pengajaran.

3. Pendukung dan penopang (Muayyidat)
Untuk menjaga agar bangunan islam tetap kokoh, perlu adanya penjagaan dan dukungan. Dukungan ini dalam bentuk dakwah dan jihad, maka bangunan islam akan runtuh. Bagaikan rumah tak beratap akan menghancurkan hiasan, bangunan dan isinya.

(Sumber : AAI FTP UGM)





 

Cinta terhadap anak



"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar " (QS. Al Anfal [8] : 28).

Al Quran melukiskan perkembangan jiwa manusia melalui firman Nya,

"ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamanya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur " (QS. Al-Hadid [57] : 20).

Ia bagaikan permainan bagi bayi yang melakukan sesuatu tanpa tujuan. Kemudian, merankak menjadi suatu aktivitas yang dilakukan dengan sadar, tetapi mengabaikan yang penting, sebagaimana yang sering dilakukan oleh anak yang beranjak remaja. Ini berlanjut dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwa mereka hingga mencapai usia remaja yakni ketika mereka mulai memperhatikan hiasan, bersolek, dan bergagah-gagah. Dan setelah dewasa sampai tua, perhatian tertuju pada mengumpulkan harta serta memperbanyak anak dan berbangga-bangga dengan harta dan anak. Semua diibaratkan seperti tanaman yang mengagumkan, tetapi pada akhirnya semua akan binasa.
Ayat diatas ditutup dengan firmaNya,

"Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (bagi orang-orang kafir)."

Ayat ini, antara lain,  melukiskan anak sebagai salah satu kebanggaan manusia. Namun, Al Quran mengingatkan,

"Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah" (QS. Luqman [31]:33).

Cinta orang tua kepada anak melebihi cinta anak kepada orang tua. Bacalah kisah Nabi Nuh as yang merupakan salah seorang dari lima nabi yang paling utama. Betapapun anaknya durhaka kepada Allah dan membangkang orang tuanya, cintanya tidak luntur. Sampai detik-detik terakhir, beliau untuk menumpang ke perahu di tengah gelombang yang laksana gunung.

Dan Nuh memanggil anak kandung, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, "Hai anakku, naiklah (ke perahu) bersama kami, dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir " Anaknya menjawab, Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! " Nuh berkata, "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. " Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan 
(QS. Hud [11] : 42-43).

Setelah anaknya tenggelam pun, ketika air bah surut dan Nabi Nuh as bersama kaum yang beriman selamat sampai ke darat, cinta sang ayah belum juga pupus. Ini, antara lain, terbukti dari informasi Al Quran.

Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata,"Ya tuhanku, sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya."Allah berfirman, "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan). Sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepadaKu sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan" (QS. Hud [11] : 45-46).

Cinta ayah kepada anak juga dilukiskan Al Quran dalam kisah Nabi Yaqub dengan putranya, yusuf. "Aduhai duka citaku terhadap Yusuf, "dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan (QS. Yusuf [12] : 84), demikian juga penjelasan Al Quran. Akan tetapi, dengan mencium aroma yusuf melalui baju yang dikirimkan oleh sang anak kepada sang ayah, pulihlah penglihatannya. Tatkala telah tiba pembawa kabar gembira itu, maka diletakannya baju gamis itu ke wajah Yaqub, dan kembalilah dia dapat melihat (QS. Yusuf [12] : 96). Begitu kuatnya cinta ayah terhadap anak sampai membutakan mata orang tua, dan begitu hebat pula cinta sampai mengembalikan penglihatan ayah yang buta. Kebutaan mata disini bukan dalam pengertian majazi. Pulihlah penglihatan pun demikian. Seorang psikolog pasti dapat memahami dengan baik faktor-faktor penyebab kebutaan dan pemulihan seperti itu.

Banyak pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman Nabi Yaqub diatas.

"Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai oleh ayah kita daripada dirinya sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita dalam kesesatan (kekeliruan) yang nyata" (QS. Yusuf  [12] : 8)

Begitu ucap saudara-saudara Yusuf, yang merasa dibedakan dalam perlakuan, setelah dalam kenyataan mereka tidak seibu dengan ibu Yusuf dan saudaranya, Benjamin.

Memang, boleh jadi Yakub lebih mencintai Yusuf dan saudaranya, suatu cinta berlebih yang berada di luar kemampuan beliau untuk mengendalikan. Atau hal ini merupakan kelebihan cinta pada tempatnya karena Yusuf dan saudaranya lebih kecil (muda) dari mereka. Atau, boleh jadi juga, beliau telah berlaku adil dalam cintanya, tetapi itu tidak dirasakan oleh anak-anaknya yang lain. Dengan demikian, timbul kesalahfahaman dan penilaian keliru dari mereka, bahkan menbawa akibat yang sangat fatal. Jika demikian, cinta harus dirasakan oleh yang dicintai. Sebab, jika tidak demikian, ia bukan cinta bagi yang tidak merasakanya. Selanjutnya, sikap terhadap anak harus diupayakan sama atau dimengerti oleh mereka, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan antar mereka.

Besarnya harapan dan berlebihnya cinta orangtua terhadap anak, dapat menjadi orangtua dan akan terjerumus ke dalam kesalahan, bahkan kedurhakaan. Dari sini, Al Quran antara lain mengingatkan,

"Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar " (QS. Al Anfaal  [8] : 28).

Karena itu, Allah berpesan dengan firmanNya yang artinya :

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi (QS. Al Munafiqin [63] : 9). 

Jika ini tidak diindahkan, maka mereka akan menjadi musuh, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al Taghabun [64] : 14, Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Permusuhan tersebut, paling tidak, terjadi di hari kemudian. Pada hari (itu) harta dan anak-anak kandung laki-laki (atau perempuan) tidak berguna (QS. Al Syu'ara [2] : 88), bahkan karib kerabat dan auladukum (anak-anak kandung atau bukan) sekali-kali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dan akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kanu kerjakan. (QS. Al Mumtahanah [60] : 3).

Pada umumnya, sampai usia lima belas tahun, atau sebelum dewasa, anak masih sangat sulit menentukan pilihan, khususnya dalam persoalan-persoalan pelik. Juga, sepanjang masa itu, ia sangat peka, sehingga pembentukan kepribadian dan kemampuan dasarnya amat ditentukan oleh pendidikan dan perlakuan orang tua dan lingkunganya. Amat banyak kompleks kejiwaan dan perilaku orang dewasa yang diwarnai dan diarahkan oleh pengalaman-pengalaman yang dialami pada usia muda. Renggutan kasar seorang pengasuh dapat berbekas dan mengeruhkan jiwa anak, sampai akhirnya dia tumbuh berkembang mengidap rasa rendah diri. "Ini dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat membersihkan kekeruhan hati anak dari renggutan yang kasar?" Demikian Nabi SAW menegur seorang wanita yang menarik dengan kasar anaknya yang pipis ketika beliau gendong.

Di sisi lain, tidak jarang orangtua, terdorong oleh keinginanya yang menggebu menuntut dari anak cara kehidupan beragama atau tingkat dan jenis pengetahuan yang tidak sesuai dengan pertumbuhan fisik, serta perkembangan jiwa dan nalarnya. Sikap orang tua semacam ini bukanlah hal yang sejalan dengan tuntutan agama. Pada prinsipnya Allah tidak membebani seseorang, dewasa atau anak-anak, melebihi kemampuanya (QS. Al Baqarah [2] : 286).

Dari sinilah pentingnya memberikan perlindungan kepada anak, bukan saja dari orang lain, tetapi juga dari keluarga sendiri, bahkan orangtua yang tidak mengerti atau yang yang ingin mendapat keuntungan cepat. "Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya, " demikian sabda Nabi SAW. Ketika beliau ditanya, " Bagaimana ia membantunya?" Beliau menjawab, "Menerima yang sedikit dari mereka, tidak memaksanya, tidak menghina dan tidak pula memakinya."
Perlu juga dicatat bahwa kesalehan anak dapat berdampak positif kepada anak. Bacalah kisah Nabi Musa as bersama hamba Allah yang mengajarnya sebagian dari ilmu ilahi.

Adapun dinding rumah itu (yang mereka bangun, walau penduduknya enggan memberi makan), adalah kepunyaan dua orang yatim piatu di kota itu, dan dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukan itu menurut kemauanmu sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 
(QS. Al Khafi [18] : 82).

Karena itu, orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan  anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan  apa yang dikerjakan 
(QS. Al Thur [52] : 21).

Salah satu wasiat Allah kepada orang tua adalah memberi warisan kepada anak-anak sesuatu dengan ketetapan Allah Swt. (QS.An Nisa [4] : 11). Di sisi lain, Allah melarang pemilik harta memberi wasiat melebihi sepertiga harta, mengingat bahwa anak keturunanya boleh jadi dirugikan oleh wasiat yang jumlahnya melebihi kewajaran itu, lebih-lebih Al Quran mewanti-wanti agar tidak meninggalkan anak keturunan yang lemah, termasuk lemah dalam materi.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.(QS. An Nisa [4] : 9).

Berbahagialah mereka yang meninggalkan anak yang shaleh lagi kuat kepribadian, ilmu yang tinggi dan banyak harta. Ini adalah cara melestarikan amal, sesuai dengan sabda Nabi SAW, " Jika putra putri adam meninggal dunia, terputus amalnya kecuali dari tiga jenis amal, sedekah yang berkesinambung, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa untuknya."

(Sumber: Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Secercah Cahaya Illahi, Mizan, 2002)




 

Asmaul Husna : Allah Maha Suci (Al-Quddus)



Manusia mempunyai standar kesempurnaan. Namun, sesempurna apapun dalam pandangan manusia, pasti tidak menjangkau kesempurnaan Allah yang sesungguhnya.

Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa, penggenggam alam semesta. Betapapun Allah memiliki kesempurnaan dalam kekuasaan, namun Dia maha suci dari sifat kedzaliman, kerusakan dan kehinaan. Maha suci Allah yang tidak tersentuh dari sisi manapun kekurangan-Nya.

Al Quddus adalah salah satu asma Allah. Di dalam Al Qur'an, kata Al Quddus (maha suci), sering disejajarkan dengan kata Al Malik (Raja atau Penguasa). Misalkan dalam QS. Al Hasr [59] : 23 dan Al Jumuah [62] : 1. Dalam kamus bahasa arab, Al Quddus adalah yang suci murni atau yang penuh keberkatan. Dari sini muncul berbagai penafsiran dari kata Al Quddus, diantaranya terpuji dari segala macam kebajikannya.

Imam Al Ghazali mengatakan Allah sebagai Al Quddus adalah Dia yang tidak terjangkau oleh indera, tidak dapat dikhayalkan oleh imajinasi, dan tidak dapat diduga oleh lintasan nurani. Demikian sesempurna nya Allah swt. Dia tidak terkejar bentuk dan dzatNya oleh kekuatan indera. Indera kita terlalu lemah untuk menjangkau keagungan Allah yang menggenggam alam semesta ini.
Maha Suci Allah dari beranak dan diperanakkan. Bagi umat islam, Allah tidak diserupakan dan menyerupai apapun. Jadi, kalau ada yang mengganggap Allah itu menyerupai sesuatu, maka pendapat itu tidak bisa diterima.  Karena sesuatu itu pasti makhluk, dan setiap makhluk pasti ada kelemahanya. Apalagi menyerupakan Allah dengan manusia.

Maha Suci Allah secara dzat dan perbuatan-Nya. Tidak ada satu pun perbuatan Allah yang cacat atau gagal.  Mengatakan cacat atau gagal pada perbuatan Allah pun tidak layak. Allah tidak mungkin berbuat sesuatu yang gagal. Maha Suci Allah dari yang dianggap sempurna oleh makhluk. Manusia mempunyai standar kesempurnaan. Namun, sesempurna nya dalam pandangan manusia, pasti tidak menjangjau kesempurnan Allah yang sesungguhnya. Akal manusia terbatas. Ia hanya mengenal 26 abjad dan sepuluh angka. Bagaimana mungkin kita yang serba terbatas bisa menilai kesempurnaan Allah, dzat penggenggam langit dan bumi?

Hikmah yang bisa diambil dari sifat Al Quddus ini?

1. Pertama, kita bisa menikmati apapun ketetapan Allah tanpa prasangka buruk. Allah telah berjanji " Aku sesuai prasangka hamba-Ku". Berburuk sangka kepada Allah akan membawa malapetaka bagi kita. Kita harus tetap berbaik sangka, pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian. Maka, nikmatilah setiap kejadian sebagai sarana evaluasi diri. Yang terpenting, kejadian apapun yang menimpa harus mengubah kita menjadi lebih baik.

2. Kedua, siap dengan ketidaksempurnaan diri. Apa yang kita banggakan sebagai manusia bila tanpa iman? Kita serba kalah oleh binatang. Masuk ke air, ikan lebih lincah. Meski kita bisa menjadi pelari tercepat, masih lalah cepat dari kuda. Manusia pun masih kalah kuat dengan badak, kalah besar dari badak, kalah besar dari gajah. Hanya kekuatan imam lah yang membuat kita lebih tinggi dari makhluk apapun. Mari kita lebih tinggi dari makhluk apapun. Mari kita tutup pintu kesombongan diri dan bukalah lebar-lebar pintu ketawadhuan. Sebab, tiada lah orang yang rendah hati, kecuali Allah akan meninggikan derajatnya.

3. Ketiga, siap dengan kekurangan orang lain. Kita harus siap menghadapi kenyataan bahwa orang terdekat kita (khususnya pasangan hidup) tidak sempurna. Secara fisik mungkin mendekati kesempurnaan tapi akhlak tidak ada yang sempurna. Ada yang pemarah, pelit atau egois. Kita harus terlatih menghadapi orang-orang terdekat kita, baik pasangan hidup, orang tua, anak maupun pembantu di rumah. Kesiapan mental dari dalam menerima kekurangan dan keterbatasan orang lain, insya Allah akan membuat kita lebih bisa bersikap bijaksana. Orang yang stress dalam hidup adalah orang yang selalu ingin sempurna dalam segala hal. Ingin yang terbaik boleh, tapi ingin sempurna tidak ada. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Memang kita harus melakukan perencanaan matang,  persiapan yang optimal, dan pelaksanaan yang hati-hati, tapi kita harus siap pula bahwa hasil yang dicapai tidak akan pernah sempurna.

Jadikanlah kekurangan orang lain sebagai ladang amal bagi kita. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai kita. Lebih baik terus konsisten memperbaiki diri dan berbuat yang terbaik. Allah yang akan mengatur hati setiap orang. Semua hati manusia ada dalam genggaman Allah. Inilah yang membuat kita harus selalu berbaik sangka pada-Nya dalam kondisi apapun. Wallahu a'alam bish-shawab.  

(Sumber : Management Qolbu/MQ)





 

Memuji Nabi Muhammad SAW Berlebihan



Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling mulia di muka bumi. Seorang rasul satu-satunya yang memiliki syafa'at agung pada hari kiamat. Orang yang pertama kali menbuka pintu surga. Seorang yang diakui ketinggian akhlaknya oleh para sahabat bahkan hingga oleh orang-orang yang memusuhinya. Seorang hamba yang karena keluhuran akhlaknya mendapat pujian langsung dari Allah swt dalam firman-Nya :

" Sesungguhnya engkau (ya muhammad) berada dalam budi pekerti yang agung." 
(QS. Al Qalam [68] : 4)

Meskipun demikian Nabi SAW melarang kita memujinya secara berlebihan. 

Beliau bersabda : "Jangan memujiku berlebihan sebagaimana orang-orang nasrani memuji berlebihan kepada Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba maka katakanlah, hamba Allah dan RasulNya" (HR. Bukhari).

Al-Ithira (memuji berlebihan) yang dilarang adalah memuji berlebihan dan melampaui batas hingga terjerumus pada yang haram, kebathilan, dusta dan syirik. Batas syirik inilah yang dilanggar oleh orang -orang nasrani hingga mereka mengatakan, Isa bin Maryam adalah Allah, atau putra Allah atau salah satu dari yang tiga". Nabi SAW melarang kita memujinya secara berlebihan bukanlah sikap merendah (tawadhu') nabi, tetapi suatu syariat yang menegaskan diharamkan nya al-ithra' itu, bahkan ditegaskan nabi dalam banyak kesempatan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas ra bahwa seorang laki - laki berkata "wahai muhammad, wahai tuan kami, putra dari tuan kami, orang terbaik kami dan putra dari orang terbaik kami." maka serta merta nabi SAW menyangkal :

"Wahai manusia, berhati-hatilah dengan ucapan kalian,  dan jangan terperdaya oleh syetan. Saya adakah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan Rasul Nya. Demi Allah, sesungguhnya aku tidak menyukai kalian menyanjungku melebihi kedudukan yang telah diberikan Allah kepadaku. (HR.Ahmad)

Dalam kisah delegasi suku bani amir, dihadapan nabi SAW ada yang menyanjung :
"Di tengah-tengah kita ada nabi yang mengetahui apa yang (akan terjadi) besok. "Maka spontan nabi Saw mengingkari perkataan tersebut seraya bersabda : "Tinggalkanlah yang ini." (HR.Al Bukhari) 

Dalam riwayat ibnu majah ditambahkan : "Tidak ada yang mengetahui apa yang (akan terjadi) besok kecuali Allah."

Hal tersebut dapat menjerumuskan pada syirik ketika memuji nabi secara berlebihan.

Seperti yang dilakukan oleh seorang penyair yang nemuji nabi saw dalam syair ya rabbibil dengan mengatakan : "Wahai (nabi), makhluk yang paling mulia, kepada siapa aku berlindung, selain kepadamu, ketika terhadi bencana yang merata. "Juga mengatakan" sesungguhnya diantara kedermawananmu (wahai nabi) adalah dunia seisinya. Dan di antara ilmumu adalah ilmu lauhul mahfuzh dan al qalam (takdir).

Penyair tersebut menempatkan nabi SAW dalam kedudukan yang tak terjangkau akal sehat serta mengira bahwa nabi SAW mengetahui hal-hal gaib.

Padahal Allah berfirman :

"Katakanlah, tidak seorangpun di langit dan di bumi mengetahui yang gaib kecuali Allah." 
(QS. An Nahl  [16] : 65)

Sebaliknya generasi pertama seperti para sahabat, tabi'in dan para ahli ilmu, mereka adalah orang -orang yang sangat memuliakan nabi dan yang paling dalam kecintaan mereka kepada beliau. Tetapi meski demikian, mereka tidak pernah terjerumus kepada sanjungan yang berlebihan kepada nabi SAW. Sebagai contoh adalah pujian sahabat Hasan bin Tsabit kepada nabi SAW dalam syairnya "tidaklah orang-orang terdahulu kehilangan (seseorang) seperti kehilangan Muhammad, tidak pula akan ada yang kehilangan seperti kehilangan beliau hingga hari kiamat."

Sebagian orang mengira, al-ithira' (pujian berlebihan) yang dilarang nabi SAW adalah yang sampai pada derajat menuhankan beliau sebagaimana orang nasrani terhadap isa bin maryam, adapun selainya maka dibolehkan. Ini adakah pemahaman yang keliru. Pemahaman ini dibantah oleh sabda nabi SAW : "Maka katakanlah, hamba Allah dan RasulNya."

Allah berfirman :  


" katakanlah (wahai Muhammad), aku tidak bisa memiliki (mendatangkan) manfaat maupun mudharat untuk diriku kecuali jika dikehendaki oleh Allah.( QS. Al Araaf [7] : 144 ).

Allah berfirman :

 "katakanlah (wahai muhammad) sesungguhnya aku hanyalah adalah manusia biasa seperti kalian, yang diberikan wahyu kepadaku."( QS.Al Kahfi [18] : 110)

Larangan memuji berlebihan kepada nabi SAW adalah untuk menjaga umat islam agar tidak terjerumus pada perbuatan dosa terbesar yaitu syirik. Sedangkan sarana termudah yang menjerumuskan orang kepada syirik adalah mengagung-agungkan orang-orang salih dari kalangan para nabi, wali dan ulama secara berlebihan. Baik dalam bentuk ucapan dengan memuji mereka secara berlebihan, atau dalam bentuk tindakan dan ini yang lebih banyak terjadi dengan berbagai macamnya. Dan paling umum terjadi adalah dengan mengagungkan kuburan mereka, membangunnya dan menjadikanya sebagai tempat ibadah. Inilah yang sangat dilarang oleh Nabi SAW sampai-sampai sebelum sakaratul maut, beliau menyatakan : "Semoga Allah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabinya sebagai tempat ibadah. Aisyah berkata : "Beliau memperingatkan dari perbuatan mereka." (HR. Muslim).

(Sumber : An Nur)





 
loading...
 
Support : About | Site Map | Privacy Policy | Disclaimer | Contact Us |
Copyright © 2013. artikelislamiku.blogspot.com - All Rights Reserved
Di Design Ulang Oleh I Template Blog Published by I Template Blog
Proudly powered by Blogger